Faktanusantaraemas.com.
Jakarta.
Di tengah sulitnya mencari pekerjaan di bidang media, sejumlah jurnalis di Amerika Serikat justru mendapat tawaran profesi baru di sektor Artificial Intelligence (AI). Tawaran itu menyasar penulis berita, jurnalis foto, dan reporter, sebagaimana diungkapkan laporan Niemanlab.(19/8/2025).
Salah satunya dialami Carla McCanna, lulusan Medill School of Journalism Northwestern University. Ia ditawari menjadi pelatih model AI oleh perusahaan Outlier melalui portal rekrutmen Handshake.
“Perekrut mengatakan bahwa keahlian saya sesuai dengan peran sebagai ahli penulisan, dan saya akan melatih model AI untuk mengoptimalkan akurasi dan efisiensi,”ucap McCanna.
Menurutnya, keahlian jurnalistik seperti menulis, melakukan riset, serta pengecekan fakta ternyata sangat relevan untuk pekerjaan tersebut. McCanna diketahui pernah magang di The Dallas Morning News dan majalah bulanan D Magazine, serta meraih gelar master di bidang jurnalisme.
Namun, mencari pekerjaan di dunia media kian sulit. Firma konsultan Challenger, Gray & Christmas mencatat, sebanyak 5.000 pekerja industri media kehilangan pekerjaan sepanjang tahun lalu, meningkat 59% dibanding tahun sebelumnya. McCanna mengaku tak punya latar belakang di bidang data atau pembelajaran mesin. Meski begitu, ia tergoda dengan tawaran Outlier karena bisa bekerja jarak jauh dengan bayaran tinggi.
“Sementara saya mencari posisi jurnalis saat itu, [pekerjaan Outlier] ini sepertinya bagus, karena benar-benar remote dan gajinya konsisten,”katanya.
Beberapa bulan kemudian, McCanna resmi bekerja penuh waktu. Ia bisa mengantongi US$35 per jam (sekitar Rp569 ribu) untuk setiap proyek yang dikerjakan.
“Banyak dari kami masih mencari pekerjaan. Tiga kali saya memberi tahu orang lain tentang pekerjaan ini, mereka langsung minta saya mengirimkan informasinya. Situasi memang sangat sulit, dan banyak rekan saya mengatakan hal yang sama,”ujarnya.
15 Profesi Terancam Punah Menurut WEF
Fenomena peralihan profesi ke bidang AI tak lepas dari perubahan besar di dunia kerja. Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) Future of Work 2023 memperkirakan 83 juta lapangan kerja akan hilang pada periode 2023–2027, seiring pesatnya perkembangan teknologi.
Setidaknya 23% tenaga kerja di berbagai industri akan terdampak dalam lima tahun ke depan, termasuk media, hiburan, olahraga, pemerintahan, hingga layanan keuangan.
WEF merilis 15 profesi yang diperkirakan akan terancam punah hingga 2027, antara lain:
1. Teller bank
2. Petugas pos
3. Kasir dan loket
4. Data entry
5. Sekretaris dan administrasi
6. Staf pencatat stok (stock-keeping)
7. Staf akuntansi, pembukuan, dan payroll
8. Legislator dan pejabat pemerintahan
9. Staf statistik, asuransi, dan keuangan
10. Sales door-to-door, pedagang kaki lima, dan penjual koran
11. Satpam
12. Manajer kredit dan pinjaman
13. Penyelidik dan pemeriksa klaim
14. Penguji software
15. Relationship manager.
,”pungkasnya.(*TR.4_/4_/Wis).






