Rumah Sakit Kardiologi Emirat-Indonesia Di Solo Diresmikan Presiden Prabowo

oleh -708 Dilihat
Faktanusantaraemas.com,
Solo (Jateng).
             “Takdir itu tak bisa ditolak”,  kalimat ini meluncur ringan begitu saja dari bibir Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Rumah Sakit Kardiologi Emirat–Indonesia di Solo (RSKEI) hari ini, 19/11/2025.
              Setengah bernada kelakar, tetapi menyimpan kesungguhan pesan yang kuat. Ya, memang tak semua pemimpin mampu tertawa pada dirinya sendiri–apalagi ketika ia sedang berdiri di atas panggung gemerlap yang sesungguhnya dirintis oleh orang lain.
             “Rumah sakit berstandar internasional senilai Rp 417 miliar itu adalah hibah dari Uni Emirat Arab. Proyek besar yang tidak dimulai hari ini. Tidak pula lahir dari tangan seorang jendral yang memotong pita pagi itu. Prabowo mengakuinya dengan jujur: gagasan besar ini datang dari Presiden ke-7, Joko Widodo. Ia hanya mendapat giliran meresmikan–menerima tongkat estafet dari seorang pendahulu yang bekerja tanpa menepuk dada, tanpa gaduh,”katanya.
             “Selanjutnya, justru di situlah kualitas Prabowo sebagai pemimpin muncul: kerendahan hati. Dalam celetukan yang terbungkus oleh kelakar, Prabowo menyatakan sikap (kepemimpinan) yang semakin jarang terlihat di panggung politik: kemampuan seseorang di puncak gunung untuk menundukkan egonya, dan memberi tempat bagi jasa orang lain, “jelasnya.
            “Hebatnya, ini bukan momen pertama. Sudah berulang kali Prabowo mengakui jejak Jokowi: kadang dengan candaan, kadang dengan kesungguhan yang tak bisa disembunyikannya. Dan tampaknya, momen indah seperti ini tidak akan menjadi momen terakhir. Kenapa? Sebab banyak rintisan yang ditinggalkan Jokowi, dan banyak yang harus dilanjutkan dengan amanah oleh Prabowo,”ujarnya.
Lalu, pelajaran apa yang berguna dan bisa menjadi ‘vitamin jiwa’ bagi kita?
                Jika RI 1–penguasa tertinggi negeri ini–mampu memberi hormat, mengapa sebagian orang justru memilih merendahkan?
Mengapa di luar panggung kenegaraan masih terdengar gaduh cemooh, fitnah yang tak kunjung putus, upaya jahat menghapus jasa, dan keculasan untuk mengerdilkan nama?
                Tapi Prabowo adalah Prabowo. Sang jendral tidak terlalu peduli dengan hiruk-pikuk itu. Ia memilih berjalan. Seperti kafilah yang tidak merasa perlu menengok pada gonggongan anjing. Seperti seseorang yang tahu bahwa tugasnya adalah melanjutkan, bukan menghapus.
               Nampaknya Prabowo paham: takdirnya berbeda dari takdir pendahulunya, tetapi garis keduanya menyambung di suatu titik. Jika ada yang membangun fondasi, maka ada yang menegakkan dinding. Dan keduanya, suka atau tidak, terikat dalam satu bangunan bernama: Indonesia.
                 Pada akhirnya, momen kecil di Solo itu mengajarkan sesuatu yang besar bagi bangsa ini:
bahwa dalam politik yang penuh amarah, kadang kemuliaan justru lahir dari ketendahan hati untuk mengakui–bahkan merayakan–jasa orang lain.
             “Ditambahkanya barangkali, begitulah takdir bekerja: bukan untuk diperdebatkan, tetapi dijalani dengan adab. Penuh hormat. Lalu bermuara pada sebuah kesadaran lebih tinggi: bahwa sejarah tidak pernah ditulis sendirian,”tandas Presiden  Prabowo. (*Tr.4_/H.SN*).

No More Posts Available.

No more pages to load.